Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Menggosok mesin motor dengan batu ijo.
***
Batu ijo? Itu lo…, yang orang Barat disebut sebagai Mangan Di-oksida. Disingkat menjadi MnO2. Inilah perbedaan kecerdasan antara di Barat dan di Timur.
***
Love for mankind, whereever you are come from
***
Ambil kawat sejengkal. Kemudian bengkokkan. Setelah itu luruskan. Begitu seterusnya: bengkokkan-luruskan. Sampai kawat menjadi putus. Akan timbul panas.
Itu tadi panas yang dihasilkan karena ada SATU lokasi yang dipatahkan. Bayangkan kalau ada 1 Milyar lokasi patahan dalam waktu yang sama. Maka akan keluar panas yang banyak sekali. Itulah cara mengeluarkan tenaga panas dari logam.
Maka kemudian dicari cara untuk memecahkan logam lain. Ternyata yang paling besar panas yang dihasilkan adalah kalau memecahkan logam timah. Terutama timah yang masih mengelurkan sinyal. Jadilah ditemukan pembangkit listrik tenaga logam.
Dari biofuel ke metalfuel. Jadi setiap usaha memecah logam akan timbal panas. Terserah orang Barat yang menyebutkan sebagai tenaga nuklir. Itu hak mereka memberi nama. Seperti orang Jawa yang memberi nama anak pertama mereka: Eka. Kalau orang Bali memberi nama anak pertama mereka: Putu.
*****************************************************************************
Radiasi = sinyal hand phone = gelombang
Hari ini pergi memancing. Motor mampir ke tempat pengisian bensin. Setelah mengisi bensin, terlihat ada shooting pembuatan film. Motor dihentikan, duduk sambil makan gorengan. Ternyata di dalam gorengan ini ada energi yang tersimpan. Di dalam bensin juga ada tenaga yang tersimpan. Tinggal bagaimana cara mengeluarkan energi. Teringat pancing yang dibawa. Ada logam pemberatnya. Apakah di logam ini ada tenaganya? Seharusnya ada. Logikanya: di benda yang ringan seperti gorengan saja ada tenaganya. Apalagi di benda yang berat.
Kalau diperhatikan, ternyata orang yang shooting itu dilihat oleh sutradara di layar TV. Komputer juga ada layar TVnya. Sekarang sudah banyak komputer yang memakai layar LCD. Kalau diperhatikan, gambar di layar LCD itu terbuat dari titik-titik. Coba saja lihat lebih dekat.
Jadi teringat, jalan-jalan ada yang terbuat dari konblok. Halaman Monas juga terbuat dari konblok. Kalau di lihat dari puncak Monas, tidak akan terlihat batas-batas konblok. Orang pintar dari luar negeri sudah bisa melihat, bahwa timah pemberat pancing ini ternyata terdiri dari bola-bola kecil. Untuk melihat bola-bola kecil ini perlu kaca pembesar.
Kalau ingat tenaga yang tersimpan di gorengan, di bensin. Bisa jadi tenaga itu tersimpan di bola-bola kecil timah. Tinggal bagaimana cara mengeluarkan tenaga dari timah tersebut. Ternyata orang pintar dari luar negeri, tahu cara mengeluarkan tenaga dari timah. Caranya adalah dengan memecah bola-bola kecil tadi. Sama seperti kalau memecah kelapa, akan keluar air. Maka, kalau memecah bola-bola kecil di timah ada keluar panas.
Tidak sembarang timah, tapi timah muda. Ciri-ciri timah yang masih muda adalah mengeluarkan gelombang radio-mengeluarkan sinyal, seperti BTS atau pemancar/stasiun TV. Berarti yang masih aktif. Seperti mahluk hidup, kalau masih muda akan masih aktif. Kalau sudah tua atau mati, maka akan pasif.
Untuk menangkap gelombang radio dari timah muda perlu alat. Alat itu seperti radio. Cuma, mereka lebih suka menyebutnya sebagai detektor.
Terasa hand phone bergetar. Ternyata ada telepon masuk. Hand phone berdering karena ada sinyal yang masuk. Jadi, telepon ini berguna untuk menangkap sinyal.
Radio juga berguna untuk menangkap sinyal. Tapi penyiar radio biasanya bukan memakai istilah sinyal, melainkan gelombang. TV juga berguna menangkap sinyal, eh gelombang. Handy Talkie juga berguna menangkap gelombang.
Gelombang atau sinyal itu mempunyai frekwensi. Cara mengukur frekwensi adalah dengan cara mengukur jumlah tanjakan atau turunan di gelombang. Radio, TV, Handy Talkie itu berguna untuk menangkap gelombang listrik.
Jadi intinya, ada gelombang ada frekwensi. Saat di SMA dulu, jadi ingat bermacam-macam gelombang. Ada gelombang suara. Ada gelombang cahaya. Ada gelombang radio. Semuanya mempunyai frekwensi.
Gelombang suara susah menembus kaca 2 lapis. Lihat saja studio tempat latihan musik. Gelombang cahaya bisa menembus kaca. Makanya bisa melihat orang di dalam. Gelombang radio bisa menembus tembok. Tapi, kalau di ruang bawah tanah, hand phone susah dapat sinyal. Jadi, cuma segitulah kekuatan sinyal hand phone.
Ada sinyal hand phone yang bisa menembus baja. Orang pintar dari luar negeri menyebutnya sebagai gelombang gamma. Ini cuma istilah mereka saja. Seperti memberi nama orang. Orang Jawa menamai anak pertama mereka: Eka. Orang Bali menamai anak pertama mereka: Putu. Selain sinyal gamma, ada juga sinyal alpha dan beta. Sinyal alpha tidak seperti sinyal listrik biasa, tapi ada butirannya. Seperti batu yang meluncur dari ketapel. Begitu pula beta. Cuma, beta lebih ringan. Alpha dan beta tidak bisa menembus kertas koran-menembus baja lebih susah lagi.
Di bumi juga tersimpan tenaga. Tenaga ini bisa dikeluarkan melalui lahar. Lahar yang tidak muncul di permukaan bumi bisa menjadi sumber panas bumi. Menghasilkan listrik.
Saat melamun, terlihat kamera orang yang sedang shooting tadi terjatuh. Rupanya kaki tiga yang dipakai untuk menopang kamera panjangnya tidak sama.
Jadi, kalau dihubungkan: kamera bisa jatuh kalau penopangnya tidak sama panjang atau mengkerut. Kalau begitu, penopang pulau Jawa yang bentuknya berupa lahar juga bisa mengkerut. Bisa mendingin, kalau panasnya diambil terus-menerus. Bisa-bisa pulau di atas lahar itu akan jatuh. Atau minimal bergeser.
Jadi ingat batu bara yang dipakai untuk bahan bakar. Ternyata batu bara ini mengandung benda-benda yang mengeluarkan gelombang radio. Gelombang radio inilah yang disebut sebagai radiasi yang bocor. Yang dituduh bocor justru PLTN, padahal PLTU yang bocor radiasinya.
(sumber: majalah Visikita, no.28/Th. VII/September 2007)
Belum Ada Tanggapan sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
